
Madiun, 22nd February 2008
Seorang cowok yang telah membuat aku penasaran tentang dirinya. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat MOS (Masa Orientasi Siswa), tepatnya saat dia maju untuk diinterview tentang karya-karyanya (tulisan-tulisannya). Tegas, bijaksana, tenang, dan tidak neka-neko. Ya, mungkin itu yang kukatakan dalam hati, selain pertanyaan dan harapan besar yang menggelayut dalam hatiku. “Siapa sich dia sebenarnya? Anaknya ga’begitu tampan jika dibandingkan dengan mas Rijal, tapi sepertinya ada yang sama antara dia dengan mas Rijal. Tapi apa itu? Karyanya yang dibacakan anak aneh tadi juga lumayan bagus, ga’kalah dengan karyanya Kahlil Gibran. Sepertinya aku udah dapat saingan baru nich!!”.
Hari kedua aku bertemu dengan dia, yaitu hari terakhir MOS. Saat itu ada sedikit kejutan dari kakak-kakak OSIS. Kita dimarah-marahi tanpa diketahui rumus matematika, fisika, dan kimianya. Tapi aku tau ini merupakan pekerjaan orang-orang yang kurang kerjaan, jadi aku tidak peduli dengan teriakan-teriakan mereka. I don’t care! Lagi-lagi anak itu yang disuruh maju. Sebenarnya ada apa to dengan anak itu? Sepertinya dia juga tidak ada salah. Di depan dia tetap tenang, dan santai, tapi tetap memperlihatkan kebijaksanaannya yang kemarin aku lihat. Tanpa kusadari mataku ini terus memperhatikannya, sehingga para panitia yang teriak-teriak di sebelahku tidak terdengar oleh telingaku.
Setelah panitia membuka kedoknya bahwa itu merupakan suatu game dan salah satu schedule yang harus dilaksanakan, suasana pun kembali reda. Tidak ada lagi celotehan-celotehan ga’karuan para panitia. Dia diwawancarai oleh salah satu kakak OSIS layaknya seorang wartawan yang mewawancarai Presiden George W. Bush. “Bagaiman perasaan kamu tadi dek?” tanya panitia itu dengan rasa layaknya seorang manusia tanpa dosa. “Sebenarnya saya sudah tau kalau itu tadi merupakan suatu permainan, jadi saya tetap santai dan tidak perlu merasa khawatir atau merasa bersalah.” Jawaban yang simpel, sederhana, dan mengejutkan hatiku.
“Subhaanallah, siapa nama hamba-Mu itu ya Allah? Dia begitu memikat hati hamba. Ternyata masih ada orang yang seperti itu, tipe orang yang selama ini hamba cari untuk bisa menemani kehidupan hamba yang lebih kekal, dan mengajari hamba tentang apa kehidupan. Atau paling tidak nantinya dia bisa menggantikan ‘Mas’ yang sudah pergi. Semoga saja aku bisa mengetahui siapa dia dan menjadikan apa yang hamba minta, amin ya Allah...”
Setelah hari itu tepatnya kejadian itu, tak pernah lagi ku temui dia. Meski sebenarnya hatiku ini terus mencari-cari dia, tapi jangan sampai ada orang lain yang tau, walau pun dan bahkan mas Rijal. Tak akan pernah ku biarkan itu terjadi. Hingga hari pengumuman pembagian kelas pun tiba. Aku tidak segera menuju ke papan pengumuman, karena sudah menjadi ketentuan dan tradisi bahwa setiap ada pengumuman baru pasti langsung diserbu massa, terlebih pengumuman yang seperti ini. Aku tidak ingin ikut-ikutan menyerbu pengumuman itu, karena aku ga’mau menyerahkan dan membiarkan tubuhku diserbu massa.
Setelah kuperhatikan lama, akhirnya papan pengumuman itu pun sepi. Hanya tinggal beberapa anak saja, tapi cukup aman untuk membiarkan tubuhku berada di sana. Dan aku pun memulai untuk mencari-cari. ‘Bahrur Rozzi Adiguna’, nama itulah yang pertama kali aku cari. Dan aku menemukan nama itu di kelas X.5. Lalu aku menuju ke bawah, berharap namaku berada di bawahnya. Yappii!!!,,,aku menemukan namaku di bawahnya yang berjarak sekitar 39 angka. “Terima kasih ya Allah… Engkau mangabulkan doaku.”
Setelah melihat pengumuman, aku langsung menuju ke kelas baruku yang telah ditentukan dan yangakan aku tinggali selama satu tahun. Di kelas itu, aku tak menemukannya. Aku bingung, dan hatiku rasanya seperti ingin menangis saja. Entah mengapa aku seperti kembali merasa kehilangan. Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya, tapi tetap tidak bisa. Aku duduk lemas di belakang, menyendiri dan tidak berusaha untuk mencari kenalan/teman baru yang dilakukan teman-temanku. Atau mungkin yang sudah menjadi tradisi bagi para siswa baru.
“Riz, nglamun ae…! Nglamunke aku piye?” suara itu menggugah lamunanku, aku mengenal suara itu,sepertinya… ya benar, itu suara Taufik teman satu sekolahku dulu waktu MTsN.
“Fik, sampeyan juga di kelas ini to?”
“Iya” jawabnya sambil membetulkan posisi duduknya.
“Trus, selain aku ma sampeyan, sapa lagi?” Lanjutku.
“Ga’ ada. Cuma I ma you thok.” Paparnya dengan logat lucunya menggunakan bahasa Inggris yang ambur-adul.
Dia adalah satu-satunya anak yang ku kenal di kelas ini. Dan karena aku lagi malas untuk mencari kenalan baru, akhirnya aku putuskan saja untuk ngobrol-ngobrol dengan dia. Daripada nglamun ga’ berfaedah wa la bermanfa’at.
“Eh, Fik. Sampeyan tau ga’ anak yang namanya Bahrur?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Bahrur? Bahrur yang mana?”
“Masa’ ga’ tau tho? Itu loh, anak yang waktu MOS kemaren arek-e maju untuk ditanyai tentang puisi-puisinya. Trus waktu terakhir dia juga disuruh maju untuk dikerjain.” Jelasku.
“Kalo yang dikerjain tu aku taunya cuma Zeni (teman sekelasku waktu MTsN), tapi yang satunya sapa aku ga’ tau. Soale saking takutnya jadi aku ga’ berani neka-neko. Trus, kalo waktu puisi itu,,, sepertinya aku lagi ke kamar mandi, kalo ga’ lagi ketiduran.”
“Ah…sampeyan iku yo, waktunya tidur malah maen, waktunya da pelajaran malah tidur. Percuma kalo gitu nerangin ngalor-ngidul”.
“Eh, anak-e opo sing Gendhut iku?” sepertinya ingatannya mulai pulih.
“Lha...betul...tau kan?” tanya ku berharap-harap.
“Apa yang di depan itu?” menunjuk pada salah satu sudut yang lebih mengarah pada satu anak yang selama ini menjadi incaranku.
“Ya…itu yang ku maksud. Taufik pinter…anaknya sapa sih?” pujiku padanya karena udah membantuku nyari permata hitam.
“Ya anaknya mamaku lah. Emange da pa to?”
“Ada deh… mau tau aja!!!”
“Hayoo..da pa?mmm,,,jangan-jangan...? Rizky lagi ehm..ehm.. ni. Cie… Rizky lagi poling in love!”
Tak ku hiraukan lagi celotehan-celotehannya. Bagiku sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya aku bisa kenal dengan dia.
Setelah beberapa hari berlangsung, kami akhirnya menentukan sapa yang pantas untuk dijadikan ketua, waka, sekre, benda, dll. Hatiku bahagia tak terbendung lagi ketika hasil keluar bahwa dia menjadi ketua kelas dan aku menjadi sekretaris satunya. Tak lama kemudian, juga diadakan pemilihan pegurus OSIS baru periode 2007-2008. Aku dan dia merupakan salah dua dari delapan anak perwakilan kelasku yang akan ikut seleksi.
Tak dapat dihindari, kedekatan antara aku dan dia pun semakin erat. Dan ternyata benar. Semua yang dulu ku pertanyakan kini terjawab sudah bersama dengan terbentuknya SUPER TITU yang beranggotakan Bahrur, Anas, Hamid, Fajar, dan aku. Di namakan SUPER TITU karena ceweknya cuma satu, yaitu aku. Namanya juga SUPER TITU, yang merupakan singkatan dari ‘‘Sekumpulan Pemuda Keren Cantiknya Satu’’. Nama SUPER TITU merupakan sebuah nama yang ditemukan di toilet cowok oleh Bahrur.
Tapi, satu yang belum mampu terjawab oleh pikirku, hatiku, dan waktuku. Apakah dia bisa menggantikan ‘Mas’ dan mas Rijal yang telah jahat padaku, yang telah tega meninggalkan aku? Mungkin saat ini dia mengatakan akan tetap menjadi sahabatku, tapi rasa takut akan kehilangan itu tetap tersimpan dalam pikiranku. Sekarang dia bersamaku karena dia belum menemukan pecinta mawar itu, tapi bagaimana denganku jika nanti dia bersama Zulfa? Sang pecinta mawar itu? atau orang lain yang mampu membawa paginya. Apa aku juga harus merasakan kehilangan lagi?
Ya Allah… temani dan tenangkan hati hamba-Mu yang kesepian ini..!!!
Amin…..